Rabu, 22 April 2015

kasus tingginya biaya produksi


Di Era Presiden Jokowi Rupiah Lemah, Ukuran Tempe Makin Mini
KONFRONTASI - Para produsen tahu dan tempe di Kabupaten Pasuruan mulai resah seiring terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Sebab, kondisi itu mengakibatkan harga bahan baku terus merangkak naik. Padahal, saat ini harga kedelai impor tergolong mahal.
Salah satu yang mengeluhkan kondisi itu adalah Zaini, 52, produsen tempe di Kelurahan Gempeng, Kecamatan Bangil. Zaini mengatakan, melemahnya nilai tukar rupiah dipastikan berpengaruh terhadap produksi tahu dan tempe. Sebab, banyak produsen yang menggunakan kedelai impor dari Amerika Serikat.
’’Produsen lebih suka kedelai impor karena lebih mudah dibersihkan. Selain itu, hasilnya lebih mengembang. Tetapi, kalau rupiah terus melemah, ini sangat mengkhawatirkan,’’ terangnya kepada Jawa Pos Radar Bromo, Jumat (6/3).
Menurut dia, jika rupiah terus melemah, ongkos produksi dipastikan bertambah. Sebab, harga bahan baku kedelai yang mengandalkan pasokan impor otomatis ikut melonjak. Dampaknya, harga tahu dan tempe ke pembeli terkerek.
Dia menuturkan, sepekan ini harga kedelai impor naik, dari Rp 8.000 menjadi Rp 8.500 per kilogram. Padahal, stok kedelai tersebut dibeli sebelum nilai tukar melemah. ’’Jika nanti rupiah terus melemah, jelas harga kedelai akan lebih mahal,’’ ujarnya.
Dia mengaku biasanya membeli langsung kedelai impor sebanyak 10 ton. Sekitar 3 kuintal di antaranya kemudian diolah menjadi tempe setiap hari. Jika harga kedelai terus naik, Zaini mengaku tidak punya pilihan untuk menaikkan harga jual tempe produksinya.
’’Saya tak mau mengecilkan ukuran. Jadi, (harga tempe) untuk ukuran 30 x 20 sentimeter (cm) saya naikkan dari Rp 30 ribu menjadi Rp 35 ribu. Tetapi, biasanya pedagang yang mengatur besarannya ke konsumen. Entah dipotong lebih kecil agar harga jualnya tetap atau yang lain,’’ paparnya.
Dia memastikan, kenaikan harga tempe akan berpengaruh pada penjualan. Zaini menyebut, ada penurunan penjualan 5–10 persen. ’’Sebab, yang (harganya) naik kan tidak hanya tempe. Beras dan elpiji juga. Jadi, banyak konsumen yang mengurangi pembelian,’’ tuturnya.  
Akhmad Mufid, 42, produsen tempe di Gempeng, Bangil, Kabupaten Pasuruan, juga mengeluhkan terus melemahnya rupiah. ’’Jelas sangat berpengaruh karena kedelai yang menjadi bahan baku produksi kami adalah jenis impor. Jadi, kalau dolar naik, dipastikan harga kedelai juga akan lebih mahal,’’ ungkapnya.
Untuk menyiasati makin mahalnya harga kedelai, Mufid memilih untuk mengecilkan ukuran tempe produksinya agar harga jual ke pedagang tetap.
Misalnya, mengurangi ukurannya hingga 1 cm. ’’Harga jual kami tetap. Hanya, ukurannya diperkecil agar para pembeli tidak merasa harga tempe naik,’’ ujarnya.(Juft/Jpnn)
Dari permasalahan diatas penulis mencoba menanggapi artikel tersebut :
Tingginya biaya produksi dapat terjadi dalam beberapa hal baik dari segi nasional maupun internasional. Salah satu permasalahannya adalah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar yang semakin terpuruk akhir-akhir ini, hal tersebut berdampak secara langsung bagi produsen yang memakai bahan baku dari luar negeri atau impor. Dari melemahnya rupiah mengakibatkan mahalnya biaya bahan baku yang mengakibatkan tingginya biaya poduksi, sehingga berdampak langsung bagi pengusaha tersebut.
Karena biaya produksi meningkat maka para penjual khususnya penjual tempe menaikan harga jual mereka dan mengurangi produksi mereka agar tidak mengalami kerugian, salah satunya membuat ukuan tempe lebih kecil dari biasanya. Hal ini akan meresahkan masyarakat.
Solusi yang dapat diberikan penulis adalah supaya pemerintah dapat menstabilkan nilai tukar rupiah dan dapat menurunkan inflasi, pemerintah harus sigap dalam menghadapi problematika ekonomi yang melanda. Pemerintah juga bisa memberikan subsidi atau dapat menemukan cara lain agar tidak bergantung pada produk impor dengan cara memperbanyak produksi kacang kedelai dalam negeri.

Sumber :

http://www.konfrontasi.com/content/ekbis/di-era-presiden-jokowi-rupiah-lemah-ukuran-tempe-makin-mini